humaniora

Modifikasi Cuaca untuk Cegah Banjir? LAPAN Ingatkan Risiko Jika Tak Tepat Sasaran

Sabtu, 1 Februari 2025 | 12:55 WIB
Ilustrasi

NTTHits.com, Jakarta – Potensi bencana hidrometeorologi akibat cuaca ekstrem di Jawa Tengah menjadi perhatian serius Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Dalam Rapat Koordinasi Antisipasi Bencana Hidrometeorologi bersama Penjabat Gubernur Jawa Tengah, Nana Sudjana, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menegaskan bahwa puncak musim hujan pada Januari hingga Februari 2025 dapat memicu banjir di berbagai wilayah.

Salah satu upaya yang sering dilakukan untuk mengurangi intensitas hujan adalah Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). Namun, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) memberikan peringatan keras: jika tidak dilakukan dengan tepat, TMC justru bisa memperburuk kondisi cuaca dan meningkatkan risiko bencana.

Baca Juga: Banjir Bandang Landa Jalur Pantura Batang! 6 Kereta Api Terganggu, BMKG Ingatkan Puncak Musim Hujan

TMC Tak Selalu Efektif, Bisa Memicu Bencana Baru?

Analisis LAPAN mengungkap bahwa efektivitas TMC sangat bergantung pada kondisi atmosfer. Menggunakan sistem pemantauan atmosfer ekstrem Sadewa, Tim Reaksi dan Analisis Kebencanaan LAPAN menemukan bahwa TMC bisa menjadi tidak efektif jika dilakukan saat terjadi cold pool—sebuah fenomena kantong udara dingin yang terbentuk akibat penguapan hujan deras.

Alih-alih mengurangi hujan, cold pool justru bisa mempercepat pembentukan awan baru dalam skala besar, memperluas cakupan hujan, bahkan berpotensi memicu banjir lebih besar.

Baca Juga: Mengapa Hujan Sering Turun Saat Imlek? Ini Filosofi dan Maknanya

Bukti Nyata: Banjir Jakarta dan Bekasi 2021

LAPAN mencontohkan banjir besar di Jakarta dan Bekasi pada 20 Februari 2021, yang diperparah oleh fenomena cold pool. Pada saat itu, intervensi TMC yang dilakukan di Lampung dan Selat Sunda ternyata tidak efektif, bahkan dinilai berbahaya. Hujan justru semakin meluas karena percepatan pembentukan awan skala meso, yang memicu curah hujan ekstrem di Jawa bagian barat.

LAPAN menegaskan bahwa sembarang menerapkan TMC bisa menimbulkan dampak negatif besar. “Tidak bisa dan bahkan berbahaya,” tegas LAPAN dalam laporan resmi mereka.

Baca Juga: BMKG Kupang: Waspada Cuaca Ekstrem di NTT, Potensi Hujan Lebat dan Angin Kencang

Tiga Alasan Mengapa TMC Bisa Memicu Bencana

LAPAN mengidentifikasi tiga faktor utama mengapa TMC bisa berdampak buruk jika dilakukan dalam kondisi yang tidak tepat:

  1. Atmosfer bersifat acak dan menganut hukum chaos

    • Gangguan kecil pada satu lokasi bisa berdampak besar di lokasi lain, karena atmosfer saling terhubung dalam skala regional hingga global.
  2. Cold pool mempercepat pembentukan hujan skala besar

    • Memicu aktivitas konvektif yang meluas, menyebabkan curah hujan yang lebih besar dari perkiraan.
  3. Risiko terbentuknya rainband dan squall line

    • Jika TMC dilakukan saat angin mengalami penguatan atau konvergensi, bisa muncul pita hujan (rainband) atau bahkan garis badai (squall line) yang menjangkau ratusan kilometer.

Baca Juga: Hujan Disertai Angin Akibatkan Sejumlah Pohon Tumbang Tutupi Ruas Jalan Utama di Kota Kupang

Kesiapsiagaan Jadi Kunci Utama

Di tengah ancaman cuaca ekstrem, berbagai pihak terus berupaya menekan dampak bencana hidrometeorologi. Selain penggunaan TMC, kesiapsiagaan masyarakat dan pemerintah daerah menjadi faktor krusial dalam menghadapi ancaman banjir.

Halaman:

Tags

Terkini