Jalan Kaki 945 Km Lintas Pulau, Frans Lumentut Bongkar Realita Pendidikan NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena Siapkan Respons

photo author
Yohanes Seo, NTT Hits
- Jumat, 17 April 2026 | 20:51 WIB
Jalan Kaki 945 Km Lintas Pulau, Frans Lumentut Bongkar Realita Pendidikan NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena Siapkan Respons. (JP)
Jalan Kaki 945 Km Lintas Pulau, Frans Lumentut Bongkar Realita Pendidikan NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena Siapkan Respons. (JP)

NTTHits.com, Kupang – Aksi jalan kaki lintas pulau sejauh hampir 1.000 kilometer yang dilakukan Frans Lumentut membuka tabir persoalan nyata di pedalaman Nusa Tenggara Timur (NTT), mulai dari ketimpangan pendidikan, kesejahteraan guru, hingga masalah lingkungan.


Temuan itu langsung disampaikan Frans kepada Emanuel Melkiades Laka Lena dalam audiensi di ruang kerja gubernur, Kamis (16/4/2026).


Selama 46 hari, Frans menyusuri enam pulau—Rote, Solor, Adonara, Lembata, Alor, dan Pantar—dengan berjalan kaki sejauh kurang lebih 945 kilometer. Perjalanan itu bukan sekadar aksi simbolik, tetapi misi sosial untuk melihat langsung kondisi masyarakat, terutama di sektor pendidikan. “Ini aksi nyata yang membuka mata kita semua tentang kondisi riil di lapangan,” kata Melki.

Baca Juga: Jelang Kedatangan Kapal Pesiar Oceania Vista, Gubernur NTT Pastikan Kupang Siap Sambut Wisatawan


Menurutnya, pendekatan turun langsung ke desa-desa memberikan gambaran utuh yang sering luput dari laporan formal. Ia bahkan menginstruksikan jajarannya untuk mengubah pola kerja agar lebih membumi.


“Kalau kunjungan kerja, jangan langsung ke lokasi acara. Jalan kaki dulu 500 meter sampai 1 kilometer supaya kita benar-benar melihat kondisi masyarakat,” tegasnya.


Melki mengaku mulai menerapkan kebiasaan itu dalam aktivitas sehari-hari, termasuk berjalan kaki dari rumah jabatan ke kantor.
Sementara itu, Frans menjelaskan misinya dilakukan bersama Yayasan Aksinyata Foundation untuk menggalang dukungan bagi pendidikan anak-anak di wilayah terpencil. Yayasan tersebut telah membantu lebih dari 2.300 anak dan mendampingi puluhan sekolah di NTT.

Baca Juga: Gubernur NTT Sidak Kendaraan Dinas, Ratusan Tak Hadir, Kepatuhan Pajak Disorot


Namun di balik semangat itu, Frans menemukan berbagai persoalan mendasar.
Di sejumlah desa, akses pendidikan masih sangat terbatas. Tidak sedikit wilayah yang hanya memiliki sekolah dasar, sehingga anak-anak harus menempuh jarak jauh untuk melanjutkan ke jenjang SMP atau SMA.


“Ini yang membuat banyak anak akhirnya putus sekolah, bukan karena tidak mau belajar, tapi karena keterbatasan,” ujarnya.


Selain itu, ia juga menyoroti kesejahteraan guru yang masih rendah serta kondisi infrastruktur jalan yang mempersulit akses pendidikan.


Tak hanya pendidikan, persoalan lingkungan juga menjadi perhatian. Frans menemukan masih minimnya sistem pengelolaan sampah, terutama sampah plastik, yang berdampak pada kebiasaan warga membuang sampah di lereng bukit hingga laut.

Baca Juga: Gubernur Melki Ubah Arah Pembangunan NTT, Dari Data ke Individu, Fokus Kelompok Rentan


Meski demikian, ia mengaku terkesan dengan solidaritas masyarakat NTT. Selama perjalanan, ia kerap mendapat bantuan dari warga, tokoh agama, hingga aparat desa yang membuka rumah mereka untuk tempat beristirahat. “Mereka hidup sederhana tapi bahagia. Namun keterbatasan ini tidak boleh dinormalisasi,” tegasnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Yohanes Seo

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X