ekonomi

NTT Optimis Atasi Isu Krisis Pangan dan Energi 2023

Rabu, 21 Desember 2022 | 07:37 WIB
Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskdat saat HUT NTT ke-64 di Sumba Barat Daya (Istimewa)

NTTHits.com, Tambolaka - Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Viktor Bungtilu Laiskodat yakin NTT dapat mengatasi isu krisis pangan dan energi pada 2023, karena ketersiadaan potensi sektor pangan yang memadai dan juga energi baru terbarukan seperti panas matahari, angin, arus laut dan panas bumi.

“Dari semua potensi tersebut maka kita harus optimis bahwa kita adalah provinsi dengan kekayaan yang melimpa," kata Viktor saat puncak perayaan HUT NTT ke-64, Selasa, 20 Desember 2022.

Dia menjelaskan berbagai potensi sumber daya dari berbagai sektor diantaranya pertanian, peternakan, kelautan dan perikanan, industri, hingga pariwisata.

Baca Juga: NTT Ladang Subur Perdagangan Orang

Untuk sektor pertanian, jelasnya, perlu terus mendorong pengembangan Program Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS) serta Kelor. Dia juga mengapresiasi Kabupaten Sumba Barat Daya yang terus mengembangkan Program TJPS dengan luas hingga 60.000 Ha yang tentunya bisa menghasilkan limbah jagung untuk mendukung kebutuhan pakan ternak guna juga mendukung sektor peternakan.

Dia mengaku dari laporan yang diterimanya untuk pengembangan TJPS di NTT pada 2023 mendatang terdapat total luas lahan 400.017 Ha. Jika dipanen mencapai 3 Ton (3.000 Kg) per Ha dan dijual dengan Rp 4.000 per Kg, maka didapatkan 4 Triliun rupiah dari 1 kali tanam dalam 100 hari.

"Ini merupakan  salah satu bentuk pertumbuhan ekonomi yang datang dari pertanian (komodirti jagung). Kita juga terus mendukung kelompok tani dengan modernisasi agar proses tanam dan panen menggunakan alat atau mesin sehingga lebih cepat dan efisien,” ungkap Gubernur.

Baca Juga: Minimalisir Penyalahgunaan Dana Desa, Kejati NTT Gelar Kegiatan Jaksa Jaga Desa

Dia juga menjelaskan tentang potensi tanaman kelor yang juga sangat mendukung ekonomi masyarakat. Dimana, untuk 1 Kg daun kelor basah dapat dijual dengan harga Rp 5.000 per Kg dan jika punya 1.000 pohon dengan setiap pohon rata-rata menghasilkan 3 Kg daun basah setiap bulannya, artinya bisa dapatkan 15 juta rupiah dalam 1 bulan. Jika dikembangkan lagi menjadi tepung, maka dapat dijual dengan harga Rp 100.000 per Kg.

“Kita terus mendorong pengembangan komoditi kelor ini, karena kelor kaya akan nilai gizi yang tinggi. Kedepannya juga, akan ada kebijakan kelor sebagai asupan makanan tambahan untuk kelompok ibu hamil, ibu menyusui dan juga bayi. Jadi melalui pengembangan kelor di NTT ini kita harap nantinya akan mampu turut memenuhi kebutuhan kelor secara nasional,” katanya.(*)

Tags

Terkini

Sasando Dia, Sinergi Perkuat Ekonomi NTT

Selasa, 3 Maret 2026 | 21:05 WIB