ekonomi

Tiga Perusahaan Asing di Balik Sistem Coretax DJP, Skandal, Teknologi, dan Harapan Baru

Minggu, 12 Januari 2025 | 15:31 WIB
Ilustrasi

 

NTTHits.com, Jakarta – Dalam upaya memperbaiki administrasi perpajakan di Indonesia, Direktorat Jenderal Pajak (DJP) meluncurkan Coretax, sistem teknologi canggih yang bertujuan mengintegrasikan berbagai fungsi perpajakan.

Dengan anggaran fantastis mencapai Rp1,3 triliun, sistem ini diharapkan mampu mengatasi berbagai tantangan perpajakan, termasuk pengelolaan data wajib pajak, pelaporan, pembayaran, hingga pengawasan dan penegakan hukum.

Namun, di balik ambisi besar ini, tiga perusahaan asing yang terlibat dalam proyek Coretax menuai sorotan publik. Salah satu di antaranya bahkan sempat tersandung skandal manipulasi pajak dan kegagalan audit internasional.

Baca Juga: Debut Marselino Ferdinan di Piala FA: 8 Menit Berharga, Kartu Kuning, dan Apresiasi Oxford United

1. PwC Indonesia: Raksasa Akuntansi dengan Rekam Jejak Kontroversial

PwC Indonesia bertindak sebagai agen pengadaan untuk proyek Coretax dengan nilai kontrak Rp37,8 miliar. Sebagai bagian dari PricewaterhouseCoopers (PwC), firma akuntansi terbesar dunia yang berkantor pusat di London, Inggris, peran PwC adalah mencari perusahaan penyedia aplikasi dan jasa konsultasi melalui tender.

Namun, rekam jejak PwC tak sepenuhnya mulus. Perusahaan ini pernah terlibat dalam beberapa skandal, termasuk dugaan manipulasi pajak di Inggris dan Austria. Pada September 2024, PwC juga dikenai denda sebesar 441 juta yuan (sekitar Rp958 miliar) oleh Komisi Regulasi Sekuritas China akibat kegagalan audit yang melibatkan Evergrande, salah satu perusahaan properti terbesar di dunia.

Dalam kasus ini, PwC dianggap membiarkan penipuan finansial oleh Hengda Real Estate, anak perusahaan Evergrande, dalam laporan keuangan tahunan. Skandal tersebut memicu keraguan terhadap transparansi dan integritas PwC dalam menangani proyek besar seperti Coretax.

Baca Juga: Iring-iringan Mobil RI-36 Viral, Raffi Ahmad Klarifikasi dan Polisi Minta Maaf, Jakarta Gempar, Gestur Arogan atau Salah Paham?

2. LG CNS Qualysoft Consortium: Penyedia Teknologi Andalan

Konsorsium asal Korea Selatan dan Austria, LG CNS Qualysoft, dipercaya menangani sistem integrator Coretax dengan nilai kontrak terbesar, mencapai Rp1,22 triliun. Peran mereka mencakup pengadaan perangkat lunak dan perangkat keras yang menjadi tulang punggung teknologi sistem ini.

LG CNS dikenal sebagai salah satu perusahaan teknologi terkemuka di Asia, sementara Qualysoft membawa keahliannya dalam integrasi sistem dari Eropa. Kombinasi keduanya diharapkan mampu memberikan solusi teknologi yang solid bagi DJP, meski pelaksanaan proyek dengan skala sebesar ini tetap menjadi tantangan besar.

Baca Juga: Gunung Ibu Erupsi, Kolom Abu Mencapai 4.000 MeterH, almahera Barat Waspada, Aktivitas Vulkanik Tetap Tinggi

Halaman:

Tags

Terkini

Sasando Dia, Sinergi Perkuat Ekonomi NTT

Selasa, 3 Maret 2026 | 21:05 WIB