NTTHits.com, Kupang - Berdasarkan rilis data BPS Provinsi NTT, pada April 2023 gabungan 3 kota Indeks Harga Kinsumen (IHK) di Provinsi NTT tercatat mengalami deflasi sebesar 0,05% (mtm), jauh lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mengalami inflasi tinggi sebesar 1,26% (mtm) maupun rata-rata bulan April dalam 3 tahun terakhir yang mengalami inflasi sebesar 0,74% (mtm).
Kepala Bank Indonesia perwakilan NTT, Dony Heatubun mengatakan tingkat inflasi IHK tersebut juga lebih rendah dibandingkan dengan Nasional dan Balinusra yang masing-masing mengalami inflasi sebesar 0,33% (mtm), dan 0,10% (mtm). Secara tahunan, inflasi gabungan di Provinsi NTT sebesar 5,12% (yoy), masih lebih tinggi dibandingkan inflasi Nasional dan Balinusra yang masing-masing tercatat sebesar 4,33% (yoy) dan 4,56% (yoy).
Dilihat dari sumbernya, sumbangan deflasi terbesar berasal dari kelompok komoditas makanan, minuman, dan tembakau yang memberikan andil sebesar -0,28% (mtm). Beberapa komoditas pangan yang mengalami penurunan antara lain ikan kembung, ikan tongkol, cabai merah, daging ayam ras, dan ikan cakalang dengan andil masing-masing sebesar -0,11%; -0,08%; -0,03%; -0,03%; dan -0,03%.
Baca Juga: AWSTAR Siap Lawan 'Pengganggu' KTT Asean Labuan Bajo
Sebagian besar komoditas ikan-ikanan seperti ikan kembung, ikan tongkol, dan ikan cakalang mengalami penurunan harga seiring dengan curah hujan yang mulai menurun, dibandingkan bulan sebelumnya seiring dengan peralihan menuju musim kemarau sehingga mendukung hasil tangkapan nelayan.
Selain itu, komoditas pangan lainnya seperti cabai merah dan daging ayam ras juga mengalami penurunan harga seiring dengan kondisi pasokan yang stabil di tengah momen HBKN Idul Fitri.
Deflasi yang lebih dalam pada bulan April 2023 tertahan oleh inflasi pada sebagian komoditas, di antaranya angkutan udara, beras, kontrak rumah, telur ayam ras, dan rokok kretek filter dengan andil masing-masing sebesar 0,17%; 0,06%; 0,03%; 0,03%; dan 0,02%.
Baca Juga: 12 Ribu Personil Siap Amankan KTT Asean di Labuan Bajo
Peningkatan tarif angkutan udara di Provinsi NTT masih berlanjut pada momen libur cuti bersama HBKN Idul Fitri. Kemudian, harga beras juga masih mengalami kenaikan, meskipun tidak setinggi bulan sebelumnya. Adapun kenaikan biaya kontrak rumah terjadi seiring dengan penyesuaian tarif yang dilakukan oleh penyedia kontrak rumah khususnya di Kota Kupang.
Selanjutnya, dari tiga kota pengukuran inflasi di Provinsi NTT, hanya Kota Kupang yang mengalami deflasi. Kota Kupang mengalami deflasi sebesar 0,16% (mtm), sementara Maumere dan Waingapu masing-masing mencatat inflasi sebesar 0,04% (mtm) dan 0,76% (mtm).
Adapun secara tahunan, Maumere mencatat inflasi tertinggi yakni sebesar 5,87% (yoy), diikuti oleh Kota Kupang sebesar 5,14% (yoy) dan Waingapu sebesar 4,12% (yoy).***