NTTHits.com, Kupang - Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengalami deflasi sebesar -0,03persen (mtm) atau inflasi 1,07persen (yoy) berdasarkan rilis Berita Resmi Statistik BPS NTT September 2024.
Level inflasi ini berada di bawah rentang sasaran 2,5±1persen, Deflasi disebabkan oleh penurunan harga sejumlah komoditas hortikultura, seperti: cabai rawit, kangkung, dan tomat, serta daging ayam ras dan telur ayam ras. Secara spasial, inflasi terjadi pada 2 wilayah pengukuran IHK, yaitu Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) dan Maumere, sementara deflasi terjadi pada 3 wilayah pengukuran IHK lainnya dengan deflasi terdalam terjadi di Waingapu.
"Deflasi NTT disebabkan oleh penurunan harga sejumlah komoditas hortikultura,"kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) NTT, Agus Sistyo Widjajati, Rabu, 2 Oktober 2024.
Baca Juga: Mengolah Produk Kearifan Lokal, Pisang Sale Mades Makin Berkembang lewat Pemberdayaan BRI
Komoditas hortikultura masih menjadi penyebab utama deflasi NTT. Produksi cabai rawit lokal ditopang oleh panen yang terjadi di Rote dan Maumere. Sementara itu, panen tomat yang terjadi di Maumere turut memperkuat pasokan di pasaran. Penurunan harga cabai rawit dan tomat turut dipengaruhi oleh masuknya pasokan dari Surabaya dan Bima. Di sisi lain, panen di Kabupaten Sikka menjadi faktor penyebab deflasi kangkung.
Pada komoditas telur ayam ras dan daging ayam ras, penurunan harga rata-rata secara nasional turut tercermin pada deflasi daging ayam ras. Meski demikian, deflasi hortikultura yang secara historis terjadi di Triwulan III merupakan fenomena yang berulang, sehingga pengendalian inflasi dapat kembali diperkuat pada periode mendatang.
Setelah mencapai level 142,00 pada bulan Agustus, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) berada pada level 140,50 di bulan September berdasarkan hasil Survei Konsumen Bank Indonesia di Kota Kupang. Indeks yang berada di atas 100 mengindikasikan persepsi konsumen yang optimis menjaga konsumsi masyarakat dan tingkat inflasi.
"Meskipun deflasi, optimisme konsumen di Kota Kupang tetap kuat dibandingkan periode sebelumnya,"tambah Agus.
Baca Juga: LAKMAS NTT Minta Penyidik Polres TTU Segera Lakukan Penyelidikan Dugaan Korupsi Alkes RSP Ponu
Tetap kuatnya optimisme konsumen seiring dengan persepsi konsumen terhadap ketersediaan lapangan kerja saat ini dibandingkan dengan 6 bulan yang lalu tercatat meningkat. Secara umum, konsumsi masyarakat NTT masih terjaga di tengah adanya indikasi pelemahan daya beli masyarakat kelas menengah secara nasional.
Meskipun peningkatan UMP NTT pada periode 2020 – 2024 sebesar 12,14persen (yoy), lebih rendah dibandingkan laju inflasi di periode yang sama sebesar 12,44persen (yoy), konsumsi masyarakat NTT ditopang oleh penyaluran kredit konsumsi yang tumbuh meningkat sebesar 9,15persen (yoy).
Baca Juga: Kaum Milenial Kota Kefamenanu, Idolakan Paslon Bupati - Wakil Bupati Timor Tengah Utara Nomor Urut 1
TPID Provinsi NTT berkomitmen untuk senantiasa meningkatkan sinergi dan kolaborasi dalam menjaga stabilitas harga dan mendorong ketahanan pangan melalui berbagai strategi dalam kerangka 4K. Selain tiga program utama, seperti: pembentukan pusat pangan, pangan murah keliling, dan bank benih, penguatan peran Bank Indonesia dilaksanakan melalui Program Implementasi Kebijakan Ekonomi dan Keuangan Daerah (PI-KEKDA). Program ini diterapkan secara terintegrasi salah satunya melalui program unggulan GNPIP, seperti perluasan penerapan good agricultural practices hingga hilirisasi produk pertanian. PI-KEKDA diharapkan dapat mendorong penguatan pengendalian inflasi dari hulu ke hilir dan pertumbuhan ekonomi khususnya pada sektor-sektor unggulan yang padat karya. (*)