NTTHits.com, Kupang - Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengalami deflasi sebesar -0.14persen (mtm) atau 1.92persen (yoy) berdasarkan rills Berita Resini Statistik (BPS) NTT Maret 2024.
Pada Maret 2024 inflasi (MtM) NTT mengalami Deflasi sebesar 0,14 persen, setelah sebelumnya di bulan Pebruari 2024 juga mengalami Deflasi 0,16 persen dengan komoditas penyumbang deflasi bulanan terbesar yakni cabai rawit sebesar -0,24persen.
Level inflasi ini terkendali dalam rentang sasaran 2.5+ 1persen, Deflasi disebabkan oleh penurunan harga sejumlah komoditas seperti Ikan tembang, tomat, angkutan udara, daging babi, dan daging ayam ras.
"Yang paling utama kami sampaikan adalah data inflasi hasil pengumuman rilis BPS itu kita mengalami Deflasi 0,14persen,"kata Kepala BI NTT, Agus Sistyo Widjajati,dalam rilis, Rabu, 3 April 2024.
Baca Juga: Distribusi Stok Beras Ke Amfoang Tertunda Akibat Luapan Air Sungai
Secara spasial, deflasi terdalam terjadi di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) yang mencapai -1.47persen (mtm), sedangkan inflasi tertinggi terjadi di Waingapu sebesar 0,52persen (mtm) Meskipun mengalami deflasi, inflasi beras dan pisang patut mendapat perhatian khusus. Beras tercatat memberikan andil inflasi sebesar 0.23persen (mtm), meningkat dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 0.16persen (mtm).
"Saya ingin sampaikan mengenai beras, kalau dilihat dari Januari-Maret 2024 maka yang paling sering muncul jadi pemicu inflasi adalah beras selama satu tahun ini,"tambah Agus.
Inflasi beras tercatat masih dialami oleh seluruh Kota IHK of Provinsi NTT. Kondisi ini sejalan dengan fenomena yang tenjadi secara nasional sebagai dampak dari El Nino di mana pemenuhan kebutuhan beras dari NTT masih bergantung pada daerah sentra lainnya, seperti Jawa Timur dan Sulawesi Selatan di mana didaerah sentra tersebut beras masih tercatat inflasi dengan andil 0,85persen dan 0.17persen.
Baca Juga: Operasi Pasar Murah di Kupang, Bulog Siapkan 5 Ton Beras SPHP
Sementara itu, pisang yang secara historis bukan merupakan komoditas utama penyumbang inflasi di NTT, tercatat sebagai penyumbang inflasi di bulan Maret 2024. Kondisi ini diakibatkan oleh hama dan penyakit layu darah pisang yang terjadi of daratan Flores dan Sumba yang mengganggu produktivitas.
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT mencatat, 70 persen petani pisang di wilayah Flores dan Sumba terdampak serangan tersebut.
Selanjutnya sinergi dan kolaborasi Pemerintah Daerah dan Bank Indonesia akan tetap terus ditingkatkan dalam menjaga inflasi pada momen Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN). Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT bersama TPID NTT, dan perbankan melanjutkan menggelar pasar murah dengan QRIS di Soe, Kota Kupang, dan Maumere untuk mendukung ketahanan pangan serta kesehatan masyarakat.
Baca Juga: Ratusan Warga Antri Beli Beras SPHP di Pasar Murah Kantor Bulog NTT